Balaraja dari Masa ke Masa

Wanita di Balaraja sedang menganyam topi (1920-1935)
A. Balaraja Masa Kerajaan Banten
Balaraja yang terletak di Tangerang bagian barat yang menyimpan bukti sejarah dan titik nadirnya dimulai dari nama daerah ini. Nama kota Balaraja terdapat dua versi akar nama sejarah kota ini.
Pertama, Balaraja berasal dari kata bala (bale) dan raja. Bale berarti balai atau tempat persinggahan. Dan raja yang dimaksud di sini adalah raja yang berasal dari kerajaan Banten. Artinya tempat peristirahatan raja. Pernyataan ini dikuatkan dengan sebuah tempat pemandian yang dikenal dengan nama Talagasari (Tempat ini kemudian menjadi nama desa).
Letak tempat pemandian tersebut tepat berada di depan balai dulu gedung Kewedanaan Balaraja dan sekarang dijadikan gedung Kecamatan Balaraja tersebut. Diperkirakan berada di Klinik Aroba, tepatnya di belakang Mesjid Al-Jihad. Hal ini mengingatkan kita pada Tasik Ardi dekat Situs Surosowan, Banten.

Ada berbagai versi mengenai diri raja yang beristirahat di wilayah ini. Pertama ada yang menyatakan Raja Brawijaya dari Majapahit dan Sultan Agung dari Mataram yang tercatat dalam sejarah pernah menyerang Batavia.
Versi kedua dan ketiga ini sebenarnya kurang kuat. Jika dilihat dari bukti yang tersebar di sekitaran Balaraja kini. Bukti pertama, Patung Balaraja yang dikenal masyarakat sebagai patung Ki Buyut Talim sebagai salah satu icon pejuang Banten.
Kedua, terdapat makam Buyut Sanudin letaknya berada di Kampung Leuweung Gede Desa Parahu Kecamatan Sukamulya. Ketiga, Makam Nyi Mas Malati di Kampung Bunar, Desa Bunar Kecamatan Sukamulya. Pejuang wanita Banten di Tangerang.
Dan yang terakhir Makam Uyut Ambiya. Makam yang pernah membuat heboh seantaro Nusantara karena makam ini mendadak membesar seperti orang hamil. Dari beberapa hikayat bahwa Uyut Ambiya ini salah satu pemimpin perang Banten versus Kompeni Belanda. Sebagian orang ada yang mengatakan Uyut Ambiya ini orang yang sama dengan Buyut Talim.
Jika ditinjau dari persebaran bahasa. Di Balaraja terdapat pulau bahasa Jawa Banten yang berada di Kampung Pekong Desa Saga Kecamatan Balaraja. Kemiripan kosa kata dengan bahasa di bantaran sungai dan pesisir pantai di wilayah kerajaan Banten.
Dari bukti-bukti tersebut Balaraja sangat kental dengan perjuangan Banten melawan Kompeni Belanda yang berada di batas demarkasi sebelah Timur Cisadane. Wajar saja sebab wilayah ini dibelah oleh sungai Cimanceri sebagai jalan menuju Batavia pada waktu itu.
Adapun versi etimologi, Balaraja yang kedua. Kata Balaraja berasal dari dua kata, Yakni kata bala tentara raja kemudian untuk memudahkan sebuta disingkat menjadi balaraja. Versi ini juga mengakui bahwa bala tentara raja ini berasal dari Banten.
Jika kita kaitkan dengan bukti yang tersebar di sekitaran kota ini sangat cocok. Sebab bukti makam yang berada disekitaran Balaraja pun dipenuhi oleh makam para pejuang yang berasal dari Banten.
Nama Kota Balaraja pernah diinterpretasi oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam tausiyah di Mesjid At-Taqwa, Tanjung Karang, Bandar Lampung, 1998. Ketika itu penulis masih menjadi mahasiswa di sana. Beliau mengatakan bahwa tanda-tanda kejatuhan Soeharto itu ditandai oleh membesarnya (baca: Hamilnya) makam para pejuang Banten di desa Tobat.
Sign pada kata “Bala” bermakna bencana dan “raja” itu presiden yang berkuasa dalam hal ini, Soeharto. Tempat makam tersebut berada di desa Tobat. Bencana bagi presiden menandakan bencana yang menimpa Soeharto dan kroninya untuk segera bertobat. Kata bertobat itu merujuk pada nama desa tempat makam berada.
B. Balaraja Masa Kolonial
Sejarah Balaraja ketika zaman Kolonial Belanda tak lepas dari sejarah berdirinya Tangerang yang pada waktu itu ditetapkan sebagai kontroleur afdeling yang dikepalai seorang kontroleur. Daerah itu dibagi dalam beberapa wilayah administrasi distrik (orang Balaraja bilang: kewedanaan) yang dikepalai seorang demang (dimulai 1881)—tahun 1907 kemudian diganti dengan wedana.
Berdasarkan Staatblad van het Nederlands Indie No. 185 tahun 1918 luas wilayah tersebut 1309 Km2 yang terdiri dari distrik Tangerang, Belaraja (Blaraja) dan Mauk. Pada perkembanganya dimekarkan menjadi empat sehingga pada tahun 1934 berdirilah Kewedanaan Curug.
Dalam ranah birokrasi kolonial Belanda jabatan yang paling tinggi untuk bumiputera adalah wedana dan kepala jaksa. Jabatan ini pun pada umumnya dipegang oleh bangsawan Sunda dari Priangan atau Cirebon.
Dalam catatan sejarah kolonial Belanda yang menjabat sebagai Wedana Balaraja, antara lain: Rangga Jaban Abdoel Moehi (17 Maret 1881-1907), Mas Martomi Abdoelhardjo (17 Juli 1907-1910), Soeid bin Soeoed (31 Oktober 1910-1924), R. Soeria Adilaga (22 Mei 1924-1925), R. Abas Soeria Nata Atmadja (26 Februari 1925-1925), R. Kandoeroen Sastra Negara (28 November 1925-1918), R. Achmad Wirahadi Koesoemah (11 Mei 1928-1930), Mas Sutadiwirja (27 Oktober 1930-1932), R. Momod Tisna Wijaya (28 Mei 1932-…), Toebagoes Bakri (1 Februari 1934-1935), R. Moehamad Tabri Danoe Saputra (20 Juni 1935-1940), dan Mas Moehamad Hapid Wiradinata (17 Juni 1940-…) .
Adapun wilayah distrik tak lepas dari tanah partikelir. Jika kita konversikan sekarang tanah partikelir di Balaraja (1900-1910) tersebut terdiri dari Antjol Victoria of Daroe (sekarang masuk ke wilayah Kecamatan Jambe dan sebagian Kab. Bogor), Antjol Pasir (sekarang masuk kecamatan Jambe), Blaradja en Boeniajoe (sekarang masuk wilayah kecamatan Balaraja dan Sukamulya), Tigaraksa (sekarang masuk wilayah kecamatan Tigaraksa), Tjikoeja (sekarang masuk wilayah Kecamatan Cisoka dan Solear), Karangserang dalem of Kemiri (sekarang masuk wilayah kecamatan Kemiri), Pasilian (sekarang masuk wilayah kecamatan Kronjo), Djenggati (sekarang masuk wilayah Kabupaten Serang), Tjakoeng of Kresek (sekarang masuk wilayah kecamatan Kresek).
Tanah partikelir ini digelontorkan kepada pihak swasta untuk disewakan oleh Kompeni Belanda akibat kebangkrutan VOC. Swastanisasi tanah milik Negara merupakan solusi untuk menutupi kebangkrutan kas VOC waktu itu.
C. Balaraja Masa Revolusi
Pergolakan di Balaraja terjadi ketika pasca perang dunia II saat bom atom Hirosima-Nagasaki meluluhlantakan Jepang. Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, 1945. Efeknya Indonesia mampu merebut kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Anehnya berita kemerdekaan Republik Indonesia telat diterima oleh warga Tangerang, termasuk daerah-daerah di bawah kewenangan Kewedanaan Balaraja pada saat itu.
Pergolakan Tangerang tak lepas dari peran serta komando Resimen Tangerang yang di dalamnya terdapat lasykar rakyat. Berita dari pelaku lasykar pernah di dengar penulis dari almarhum Sersan Sawinan (mantan TRI) ketika terjadi baku tembak antara Tentara Belanda (Gurkha) dan Lasykar rakyat di Pasar Balaraja lama.
Beliau menceritakan bangunan pasar dibombardir (baca: digranat) oleh tentara Belanda. Kekaguman penulis saat itu mengarah pada struktur kekuatan beton bangunan pasar yang tetap tangguh. Mungkin sesuatu yang susah dicari tandingannya dengan bangunan di zaman sekarang.
Peperangan yang dimulai dari Cikande akhirnya membuat lasykar rakyat bergerilya masuk desa keluar desa. Korban dari kedua belah pun tak terelakan lagi.
Masa revolusi yang menjadi catatan pahit adalah zaman gedoran Cina. Peristiwa ini tercatat dalam berita jurnalistik sekitar awal Juni 1946. Kampung Parahu dan Kampung Ceplak Kewedanaan Balaraja adalah kampung yang paling banyak menelan korban warga Cina.
Peristiwa kelam ini bukan berarti melulu kesalahan pribumi tetapi memang kesalahan sistem kolonial yang membuat pribumi tertindas. Peristiwa ini pun diperparah dengan identifikasi pribumi terhadap warga Cina yang menjadi mata-mata Belanda. Kerusuhan muncul mulai dari Tangerang merambah ke daerah hingga pecah di kawasan Kewedanaan Balaraja.
Syahrir sebagai perdana menteri pada 6 Juni 1946 menyesali peristiwa penggedoran Tangerang. Esoknya Soekarno pun menyinggung peristiwa tersebut dalam pidatonya yang berjudul “Keadaan Bahaya”.
Sebagai tindak lanjut pemerintah menginstruksikan kepada Resimen Tangerang untuk melucuti senjata yang berada di tangan rakyat. Di samping itu, pemerintah pusat mengirimkan misi yang dipimpin menteri penerangan M. Natsir disertai pejabat kementrian dalam negeri, wakil Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama wakil golongan Cina, Oey Kim Seng menginspeksi tempat-tempat terjadinya kerusuhan.
Di Balaraja M. Natsir berpidato dihadapan massa dan menasihati masyarakat Balaraja. Agar kerusuhan semacam ini tidak terulang kembali karena akan merugikan pemerintah RI yang baru saja berdiri dalam meraih citra publik di mata internasional. Dibantu oleh tokoh daerah seperti Achmad Chotib, Syamoen dan Sutalaksana. Akhirnya warga pribumi dan Cina pun memahami kekeliruannya.
Ada hal yang patut menjadi perhatian bagi pembaca bahwa Balaraja pernah menjadi ibukota Kabupaten Tangerang ketika diduduki tentara Gurkha, Belanda. Pemerintah RI mengangkat R. Achyad Penna sebagai Patih Pemerintah RI beserta seluruh staf dan aparat pemerintah RI Kabupaten Tangerang mutasi ke Balaraja, jabatannya pertamanya dari 1945 hingga 1949. Selanjutnya Bupati RI di Balaraja dijabat oleh KH Abdulhadi (Juli 1946), R. Djajarukmana (1947) hingga jabatan ini kembali ke R. Achyad Penna tahun (1950-1952).
Sebagai catatan bahwa pada masa revolusi kedudukan pemerintah RI Kabupaten Tangerang berkedudukan di Balaraja kurang lebih selama 7 tahun. R. Achyad Penna sebagai orang Tangerang lulusan OSVIA Serang kemudian menjabat kembali sebagai Bupati Tangerang (1950-1952) setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada pemerintah RI.
D. Balaraja Masa Kini
Kewedanaan Balaraja berkembang seiring dengan perkembangan zaman sistem ini pun dihilangkan dan masing-masing wilayah partikelir pun menjadi kecamatan. Kecamatan Balaraja, Tigaraksa, Cisoka, Kronjo dan Kresek. Selanjutnya Balaraja memekarkan Jayanti sebagai kecamatan.
Seiring dengan perkembangan zaman otonomi daerah, tahun 2007 Bupati Tangerang, Ismet Iskandar memekarkan kembali Kecamatan Balaraja sehingga jadilah Kecamatan Sukamulya. Kecamatan Kresek dipekarkan jadilah Kecamatan Gunung Kaler. Kronjo dipekarkan jadilah Kecamatan Mekar Baru dan Kecamatan Cisoka jadilah tumbuhlah Kecamatan Solear. Sebagai ancangan pembentukan Kabupaten baru yang bernama Tangerang Barat.
Secara historis Tangerang bagian barat ini sudah sepantasnya menjadi kabupaten diiringi kelengkapan potensi pendapatan asli daerah sangat memungkin. Letak geografis yang strategis di antara jalur lalu lintas nasional yang cukup padat.
Pusat Industri tumbuh dan berkembang di Kecamatan Balaraja, Jayanti dan Cisoka. Areal perumahan sebagai daerah salah satu penyangga Ibukota sudah berdiri di setiap kecamatan yang ada di daerah ini.
Potensi pertanian tersebar di wilayah kecamatan Cisoka, Solear, Jayanati, Sukamulya, Kresek, Gunung kaler, Mekar Baru, dan Kronjo. Adapun potensi kelautan dan perikanan berpusat di Kecamatan Kronjo dan Mekar Baru.
sumber file : http://ozzychastello.blogspot.com/2012/02/asal-mula-nama-daerah-tangerang-dan.html
sumber pic : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Hoedenvlechtsters_aan_het_werk_in_Balaradja_TMnr_60016106.jpg

Posted on Maret 28, 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: