deSEMBER

Desember, ya desember merupakan bulan pada tahun masehi. Bulan ke dua belas disetiap tahunnya, bulan yang mungkin bagi sebagian orang merupakan bulan yang istimewa, demikian menurut saya. Meski pada hakekatnya semua bulan merupakan bulan yang istimewa, tetapi bulan desember pasti memiliki keistimewaan yang luar biasa, bila anda setuju berarti kita sepaham, coba kita lihat beberapa kejadian penting lahir dibulan desember, sebut saja “hari ibu” hari yang dimana semua manusia bergegas untuk memanjakan para kaum ibu diseluruh dunia. Bukankah itu istimewa?
Dalam catatan ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai desember, dari mulai cerita yang mungkin terdengar sedikit “lebay” yakni hari kelahiran saya. 5 desember1983 pukul 15.00 saya dilahirkan setelah 9 bulan 10 hari sang ibu merawat saya didalam rahimnya. Sungguh luar biasa bagi saya, coba kita hitung secara detail kejadian 9 bulan 10 hari tersebut! Kita mulai dari tahun, memang tak genap satu tahun ibuku menyimpan aku dalam rahimnya, 9 bulan = 270 hari + 10 hari = 280 hari, kemudian dari hari kita buat menjadi jam, 1 hari sama dengan 24 jam. 280 hari x 24 jam = 6.720 jam,wow sungguh angka Yang fantastis menurut saya.
Apakah anda seorang wanita? Bersiaplah anda untuk menjadi seorang ibu, bersabarlah anda untuk menemani keturunanmu didalam rahimmu. Dan apakah anda seorang laki-laki? Bersiaplah anda meluangkan waktu untuk selalu setia menemani pasangan anda yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi si jabang bayi.
Hai, sang anak jika diantara pembaca adalah seorang anak, cobalah anda ambil sebuah cermin atau cobalah dan bercermin, lalu katakan pada cermin itu “kemana saja saya saat ini, sehingga saya tak pernah berpikir sejauh ini untuk mengetahui pengorbanan seorang ibu?”? Jika anda sudah bercermin, cobalah kita renungkan dan mulailah merubah pola pikir kita yang senantiasa selalu menganggap enteng sebuah kehamilan, saat ini usia saya sudah 29 tahun dan saya sudah menikah dengan wanita cantik dan setia. Pernikahan itu kami gelar pada tahun 2010 lalu, menahun sudah kami jalani pernikahan itu, meski kami belum dikaruniai keturunan (4/12/12) tapi kami selalu berdoa akan keabadian kebersamaan. Dalam catatan ini saya berharap muncul sebuah ide bagaimana caranya kita sellu tetap bersyukur atas Nikmat iman dan nikmat sehat yang selalu kami rasakan.
Teringat 29 tahun yang lalu, membawa saya membayangkan sosok seorang ibu yang luar biasa telah membesarkanku hingga saat ini, meski ia telah tak bersamaku selama 8 tahun, ia yang aku bayangkan tetap tersenyum melihatku dari alam sana, meski aku pernah merasakan sesekali ia marah, kecewa bahkan menangis melihat tingkah laku saya didunia. Apapun itu, doaku bagi ibu, semoga ibu tetap selalu bisa bersama saya kemana pun dan kapan pun.

Posted on Desember 4, 2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: