noda (kisah si pendengar setia)

Hari itu memang hari yang dalam keadaan tak sengaja dan beruntung, pagi harinya aku hanya menikmati tidur dari kelelahan semalan. Entah angin apa yang mendorong handphoneku berdering, ‘my seli’ tertera dalam layar itu. Kuangkat dan mengatakan “hallo hon” disambut suara manja perempuan yang sudah lama tak jumpa sampai akhirnya kita bertemu sambil cium pipi kanan-kiri. Obrolan demi obrolan dibahasakan sampai akhirnya aku harus pulang dan ia pun menerimanya.

Dalam perjalanan pulang, aku tak berpikir apa-apa mengenai perjumpaan itu hingga sampailah ditempat kawan untuk rehat sejenak sebelum sesampainya diperaduan, nama tehnolgi membawa aku untuk menikmati layanan sampai akhirnya aku harus bertemu dengan gadis yang ku kenal melalu handphone, chat ku lakukan hingga janji bertemu pada malam itupun dilakukan.

Berputar mencari tempat untuk menjemput hingga akhirnya makan malam diemperan sesambil diisi canda tawa, tawaran untuk pulang pagi pun dilontarkan dari mulut yang berpikiran kotor malam itu, “bagaimana kalau kita pulang pagi?” lontar mulutku seraya disambut dengan jawaban “boleh, siapa takut”. Otak yang sudah terkontaminasi dengan polusi udara yang kotor menghantarkan aku dan dia ketempet yang dingin, pemandangan malam nan indah kami pandang sembari mencium pipi, bibir sambil meraba, aneh apa yang sebenarnya ada dalam otak ini tp dingin lebih jahat sehingga malam itu mngajak aku untuk memesan kamar untuk rehat dan berharap bisa bersetubuh dengan dia. Kamar ku pesan pembayaran pun dilakukan, “boz boleh minta biaya antar?” ringan tangan ini untuk memberikan tips karena optimis bisa melakukan apapun dalam kamar itu.

Lampu kamar masih meyala dan gorden pun masih terbuka, repleks ku tutup gorden dan mematikan lampu. Hasrat kusyut dan nafsu setan mulai berputar, diawali dengan malu-malu dari dua mahluk yang tak tahu dosa. Kepala wanita itu disandarkan tepat diketiak sambil sesekali mencium dan tangannya meraba ‘anuku’ serentak bergerak dan mengeras, aku pun mulai merespon dengan lincah tangan ini untuk perlahan melucuti pakaian yang wanita itu gunakan, dari mulai baju yang menggunakan ‘resseleting’ sampai ‘tanktop’ garis-garis yang meyelimuti ‘payudara’ nan kenyal dan putih itu.

Hanya ingin bersetubuh tanpa kontak langsung ‘anuku’ dan ‘vaginanya’ namun entah apa yang terjadi tangan ini sekali lagi refleks untuk melucuti celana jeans yang ia gunakana, ia pun pasrah karena ‘payudarnya’ aku emut dan ku remas disebelahnya.

Jeans pun mulai turun hingga tak lagi menutupi kaki dan bokongnya, ‘anuku’ makin mengeras, wanita itu makin ganas seraya meminta “masukan dan jangan kau keluarkan diluar tp di dalam ya” aku pun sempat kaget dan ketakutan, untuk meringankan rasa takutku itu, ia kembali berkata “ga akan jadi ko, ak janji itu, jadi didalam saja biar lebih berasa ser-seran”, aku coba berpikir tidak, “diluar saja”. ‘anuku’ mulai diarahkan pada lubang ‘vaginaya’ dan keduanya merasakan nikmat sesaat yang benar-benar nikmat dan belum pernah aku lakukan sebelumya dengan siapapun, “goyang dunk” pintaku dan ia pun menggoyang bokongnya, “naik-turun” ia pun memberikannya, ‘anuku’ makin menancap di lubang itu. Aku pun menikmati meski harus merasakan was-was walau tak keluar keringat karena cuaca dini hari itu semakin dingin. Berlangsung lama memang aksi panas itu di atas ranjang yang sesekali berbunyi ‘krek-krek’ semakin kencang goyangan wanita itu semakin terdengar oleh tetangga suara ranjangnya. Namun kita tak perduli. ‘cret, anuku’ muntah karena mual dan pengap berada lama di dalam lubang itu, lemas dan sedikit puas walau wanita itu memberikan muka masam karena ‘anuku’ muntah diluar lubang dan dia sedang menikmati renyahnya ‘anuku’. Benar memang apa yang dikatakan orang-orang banyak jika setelah kita bersetubuh akan lelap tidur, mataku terpejam sesambil mendengar rayuraan gadis itu meminta aku mebali mangacungkan ‘anuku” “ayo dong mas, lagi…aku masih mau” tapi mata ini tetap tertutup dan telingaku lama-lama menutup rayuannya. Dalam nyeyaknya tidur itu aku tertangun oleh waktu yang ku lihat di layar handphoneku, ku tengokan kepalaku pada gadis itu, kulihat ia masih ‘bugil’ dan kepalanya masih tersender diketiakku, ia pun lelap setelah kutiduri. Aku mencoba membangunkan ‘anuku’ dan wanita itu untuk memulai lagi, pasrah yang ia lakukan tapi ‘anuku’ sama sekali tak mau bangkit, meski aku paksa masuk di lubang itu. Merasa putus asa, aku ambil langkah untuk mengajak pulang karena memang 2 jam lagi aku harus masuk kerja.

Menempel dadanya di punggungku yang terlapisi jaket tebal sambil ku tancap kuda besiku dalam kecepatan tinggi karena tak mau kehilangan pekerjaan. Ku antarkan dia sampai tempat yag ia pinta dan aku pun lupa untuk membayarnya sampai ketika ia meminta temannya untuk menyampaikan padaku, “mas, ada titipan salam dari wanita semalam, bayarannya mana?” huft, aku lupa, besok aku berikan dan dalam keadaan sadar aku teringat akan noda terhitam dalam hidupku telah menjadi dosa terbesar yang entah perbuatan apa yang bisa menghapusnya. Ahhhh, dasar setan hanya bisa merasuki manusia yang memiliki kesempatan untuk berpikiran nafsu.

Posted on November 5, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: